Pentingnya Memuaskan Nafsu Ke-Kepo-an NETIZEN

Saya tidak tahu dari mana saya harus memulai, namun jika boleh sedikit bercerita, awal tahun 2018 ini merupakan tahun yang cukup berat untuk saya. Setiap masalah datang bersamaan tanpa saya tahu bagaimana dan darimana saya harus mulai menyelesaikannya. Terlalu lama saya duduk (meskipun sebenarnya saya tidak selalu duduk) berpikir tanpa mengerti apa yang saya pikirkan karena sama sekali tidak ada yang singgah di pikiran saya. Saya duduk hanya untuk mencari, tanpa paham apa yang saya cari. Hingga suatu saat, ada satu rumor yang berkembang di belakang saya. LGBT. Itu menetap di saya.

LGBT, seperti kita ketahui adalah label bagi seseorang yang memiliki atau dianggap memiliki penyimpangan seksual. LGBT tidak lain adalah kependekan dari Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender. Barangkali sudah tidak perlu saya jabarkan masing-masing dari itu semua, istilah-istilah itu sangat mudah dikenali. Cap LGBT pada diri saya sebenarnya sudah melekat jauh sebelum ini. Saya sering diisukan tidak memliki ketertarikan dengan lawan jenis. Alasannya? ya, saya jarang terlihat “nongkrong” dengan lawan jenis. Saya dianggap tidak memiliki teman laki-laki, saya dianggap tidak pernah punya pacar yang serius, dan saya terlalu banyak menghabiskan waktu dengan teman perempuan. Bisa dilihat, akun media sosial atas nama saya jarang sekali menampilkan aktivitas dengan lawan jenis. Ya, masyarakat atau jika boleh saya menggunakan istilah netizen untuk mereka yang selalu menyimpulkan tanpa mengkonfirmasi apa yang ingin mereka ketahui tidak sulit untuk men-cap sya sebagai pengikut LGBT. HANYA SEKEDAR MENGETAHUI, atau kepo dengan dalih kepo is care.

Saya mulai bertanya pada diri saya sendiri, haruskah saya mengkonfirmasi ini semua? Jika ini penting untuk kelanjutan hidup dan karir saya, maka saya akan dengan tegas menjawab, TIDAK, saya bukan salah satu dari mereka. Meskipun saya tahu, bentuk konfirmasi ini tidak akan pernah membuat netizen yang teramat memerhatikan saya puas dan berhenti membuat rumor-rumor murahan. Saya yakin, selalu ada jalan bagi “mereka” untuk memuaskan nafsu ke-kepoan-nya dengan mencari beribu fakta yang dibuat-buat agar rumor ini seperti api kecil yang lambat laun mendidihkan air yang di tampung di atasnya. Kenapa? karena tidak ada kata puas untuk sesuatu yang jahat. Seperti kata Alan Turing dalam film The Imitation Game “kenapa orang melakukan kejahatan? karena itu semua nikmat”. Namun jika ditanya apa yang sebenarnya yang saya ingin lakukan, saya tidak ingin mengkonfirmasi apapun karena itu bukan kewajiban saya untuk menjelasakan sesuatu.

Apa saya baru saja mengatakan bahwa netizen yang kepo itu jahat? Kan mereka gk membunuh, mencuri, korupsi, atau merugikan orang lain? mereka kan hanya ingin tahu, karena LGBT itu bla…bla…bla… Benar, mereka yang terlalu menaruh “perhatian” dan kebablasan menyebabkan munculnya sebuah branding yang merugikan seseorang tidaklah jahat. Tapi lebih jahat lagi. Branding yang tidak tepat yang dilekatkan oleh seseorang dan diikuti oleh kebanyakan orang latah akan menyebabkan kematian pada karakter seseorang. Lambat laun akan menjadi depresi, tidak ada semangat hidup, secara mental ia sudah mati dan menuju kematian sesungguhnya. Masih kurang jahat? bayangkan, ada berapa banyak orang dibelakangnya yang ikut menunggu kematian karena hilangnya harapan bersama kemunduran yang terjadi secara masif kepada korban branding ini. Saya akan bertanya pada pembaca, “terbuat dari apa hati anda?” jika anda tidak setuju bahwa branding yang salah bukanlah kejahatan. Ini jelas kejahatan kemanusiaan. Seseorang, bisa saya, teman, orang tua, atau siapapun yang belum tentu bersalah telah direnggut haknya sebagai manusia. Apa yang lebih jahat dari ini semua?

Saya menulis ini mungkin atas dasar apa yang terjadi pada diri saya. Tapi ini lebih luas lagi. Ini bukan hanya tentang cap LGBT yang saya alami. ini bisa saja tentang cap anak haram yang dilahirkan dari orang tua yang tidak memiliki ikatan yang sah, orang dengan HIV Aids, anak yang memiliki ayah seorang koruptor, perempuan yang memutuskan untuk tidak menikah, orang dengan LGBT itu sendiri, anak dari seorang ibu yang TKW, atau pada semua orang yang tidak memiliki kesempatan memilih jalan hidupnya. Ini bisa terjadi pada siapapun. Siapa sebenarnya yang memulai era branding pada sesuatu yang tidak sesuai dengan batasan kebanyakan orang? Siapa yang berhak menentukan jalan hidup seseorang? Siapa yang berhak menentukan kebahagiaan seperti apa yang ingin dijalani seseorang? siapa yang berhak menentukan salah benar pada sesuatu yang tidak bisa dipilih? siapa? Tidak ada! Please, stop!

Bagi kalian yang gemar sekali merundung orang lain dengan semua batas-batas yang kalian buat sendiri, berhenti sekarang juga. Tidak ada gunanya sedikitpun. Kalian hanya menambah beban masalah pada orang lain yang bahkan masalah pribadinya saja belum tentu bisa diselesaikannya. Jika kalian tidak bisa membantu menyelesaikan masalah, maka bantulah dengan tidak menambah bebannya, atau hormati sedikit saja hak nya sebagai manusia. Karena pada dasarnya, tidak ada manusia yang ingin menjadi “aneh” menurut manusia lainnya, tidak ada yang ingin menjadi LGBT sebagai jalan hidupnya, tidak ada yang ingin menjadi anak dari orang tua yang tidak jelas, tidak ada orang yang ingin menjadi ODHA. Dan jika kalian ingin membantu, bantulah dengan menjamin bahwa ia tidak hidup sendiri, dengan beribu kesempatan untuk membuat hidup lebih baik dari saat ini. Kalian tidak akan bisa membantu meringankan, menjadi peduli dan tidak menghakimi sudah lebih dari cukup.

salam,

Briani

Advertisements

lakon hidup

selalu usia yang kau salahkan,
dari setiap lekuk kerut di parasmu.
sudah, jangan lagi kau berdusta,
sembunyikan realitas, abai pada nurani.

kau bilang cuaca panas,
untuk peluh yang terus mengalir,
ku kira, panggung ini sudah berakhir,
lakon itu pandai sekali kau perankan.

katamu, seumur hidup tidak pernah lapar,
sesekali wajib beri makan cacing perut,
hah! bisa saja kau hilangkan salahmu,
demi usus orang lain yang tak pandai menahan.

luka itu tanda kehormatan, tangkasmu,
sebagai jantan yang tidak boleh terkalahkan,
bagaimana bisa durja itu kau tutupi,
ku tahu, itu sakit tidak pernah pergi.

kau ini siapa?
pahlawan bukan, apalagi dewa,
itu laku bukan ciri manusia biasa,
kenapa baru sekarang ku tanya?
saat waktu sudah tak panjang lagi.

ah, aku mana peduli siapa kau, dahulu.
ini dompet dan perut penting terus terjaga,
saat sadar, ternyata jauh ku tempuh hidup,
tanpa paham peran yang kau mainkan,

memang bukan dewa,
mungkin jahat, tapi setia.
tidak selalu ada tapi tidak meninggalkan,
dia yang pandai mainkan jalan cerita.

bukan pahlawan, apalagi dewa.
ia yang selalu aku panggil, AYAH.

-Briani-

Tanpa makna

Desir hati lirih ucap

Ragu jiwa sulit ditepis

Hilang hasrat hancur logika

Keping tersisa tanpa makna

Harap habis hilang daya

Angan lenyap aral mengisi

Berisik, dia banyak kata

Dalam dengki penuh caci

Sombong, pikirku

Buta nurani tanpa tersadar

Tau pergi saja

Tiada tersisa selain sesal

Maka kau tinggal sendiri

Bayangpun enggan temani

Baru sadar setengah jiwa terbuang

Sisa setengah itupun semu.

100118

T

Di Ujung hari

Lelah sudah tak kuat ku pikul,
Jari sudah tak sanggup mencangkul,
Kaki sudah tak kuasa mendaki,
Nalar sudah tertutup peluh,

Namun hari baru saja dimulai,

Sinar mentari terlalu silau untuk kutatap,
Embun pagi terlalu rapuh untuk kugenggam,
Berjalan mundur pada akhirnya,
Mustahil mengejar angan yang jauh dari jangkauan,

Namun hari baru saja dimulai,

Getir hati tatap peradaban,
Nampak masa mengubah wajah desa,
Bukan lagi usaha tentukan capai,
Tapi siapa punya angka,

Hari baru sampai atas kepala,

Hah! Bodoh!

Jengah pikir, gila sendiri
Dipaksa hidup hadapi tuntutan,
Matikan daya upaya dan bakat,
Yang penting jalani gaya banyak orang,

Apa ada aku di antaranya?
Kenormalan menjadi tak waras di tengah kegilaan,
Pun prinsip hanya untuk lelucon,
Idealisme hanya untuk identitas,

Aku lupa, mentari berganti matahari yang kian capai ujung tugas,
Peras keringat sepanjang waktu,
Abai pada hukum alam,
Takluk pada hukum manusia,
Lupa akan Yang Kuasa,

Hampir terbenam ia disana,
Semburat cahaya tebarkan jawab,
Ada hasil tiap pengorbanan,
Tanpa pandang siapa punya emas,

Silap pandang butakan mata,
Asal jangan matikan nurani,
Gelap ini tak selalu mengerikan,
Titik harap menggantung tak hingga,

Di ujung hari,
Jangan lupa,
Semesta tak pernah menggubah sajak hukumnya.

240417

senja di kota tua

temaram lampu menerangi senja di kota tua,

masih jelas tercium bau basah rumput sisa hujan siang tadi,

bulir air siap menetes dari sudut siku sebuah bangku,

kosong, iya kosong,

 

kupilih salah satu sudut itu,

di kota tua,

kusandarkan punggung pada sandaran yang sudah koyak peyangganya,

kubiarkan peluh meluruh hingga jatuh,

bersatu ia dengan kubangan air hujan,

 

jauh pikir ini mengelana,

tentang yang lalu,

lampau,

dan tentang yang akan datang,

masa depan,

 

keparat!

seperti inikah perasaan bersalah,

datang begitu saja, lama berdiam

mengisi relung hati dengan duri terlentang,

menembus,

merusak nalar,

 

senja semakin larut, temaram telah berganti menjadi terang,

kubangan air berangsur mengering,

aku, masih saja disitu,

bersandar pada sandaran yang telah koyak penyangganya.

 

01082016.

 

 

 

 

 

Sebuah Perjalanan

berangsur gelap hari ini,

lembayung enggan menyapa saat senja,

begitupun saat pagi,

tidak ada lagi potret suka jelang malam,

hanya sisa peluh dari lelah,

 

entah kemana harus ku asingkan langkah kaki,

kala raga butuh lebih dari sekedar rehat,

dimana jiwa ingin lebih dari sekedar harap,

dan hati, tidak taulah harus kuapakan hati ini,

 

bila rintik hujan tidak pernah meminta dimana ia akan turun,

dan embun pagi tidak pernah berharap dimana ia akan tertetes,

dan jika takdir adalah ujung dari hidup,

pantaskah aku meminta akhir dari sebuah perjalanan?

 

berangsur gelap hari ini,

sekarang, kemarin, atau lusa

tetap seperti itu.

 

akankah lembayung kembali menyapa?

saat senja, atau pagi hari.

 

31072016

 

 

 

 

Tentang Rasa

rasa, 

bagaimana bisa aku menyebutnya

kusimpan, tersakiti,

kubuang, kurindukan,

rasa, 

bagaimana bisa kuraih?

Kukejar ia berlari,

Kudiam ia mendekat,

Geram kuberpikir,

Kebas kumerasa,

Hampa kusesali,

Rasa, rasa, rasa!

Bagaimana harus kujelaskan,

Titik mana yang harus kuperjelas,

Sudut mana yang harus kuterangi,

Agar rasa, 

tak hanya sekedar kata,

Tak cukup sekedar jiwa,

Tak sulit untuk dimengerti,

Rasa, 

mata memandang,

Hati menerima,

Nalar tak terusik.

29072016